Menanti Bogor-Bandung Kembali Terhubung Kereta Api Sepenuhnya


PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI telah memperpanjang relasi KA Siliwangi sampai ke Stasiun Cipatat mulai keberangkatan 21 September 2020. Sebelumnya, relasi KA Siliwangi adalah Sukabumi–Ciranjang.

Perpanjangan relasi KA Siliwangi sampai ke Stasiun Cipatat sejauh 15 km ini dapat terealisasi usai rampungnya reaktivasi jalur KA Cianjur– Ciranjang–Cipatat sepanjang 30 km oleh Kementerian Perhubungan. Sehingga rute kereta api Bogor–Cipatat sudah tersambung sepenuhnya.

Berhenti di Stasiun Cipatat, pemerintah diharapkan agar kembali memperpanjang jalur tersebut hingga ke Stasiun Padalarang yang akhinya menuju ke Stasiun Bandung. Jalur yang harus direaktivasi pemerintah adalah dari Stasiun Cipatat menuju Stasiun Tagog Apu hingga ke Stasiun Padalarang sepanjang 13,8 km. 

Baca Artikel : Pengumuman! KA Siliwangi Sampai ke Stasiun Cipatat

KA Siliwangi yang melayani rute Sukabumi-Cipatat/Dok: Kemenhub


Sedangkan dari Stasiun Padalarang sampai ke Stasiun Bandung sudah ada rel eksisting aktif yang biasa digunakan Argo Parahyangan. 

Apabila jalur Cipatat–Padalarang kembali direaktivasi, maka Bogor–Bandung terhubung sepenuhnya dengan kereta api. Jalur kereta api Bogor–Bandung sejauh 140 km akan melewati beberapa stasiun, yaitu Stasiun Bogor-Maseng-Cigombong-Cicurug-Parungkuda-Cibadak-Cisaat-Sukabumi-Gandasoli-Cireungas-Lampegan-Cibeber-Cianjur-Maleber-Tipar-Selajambe-Ciranjang-Cipeuyeum-Rajamandala-Cipatat-Tagog Apu-Padalarang-Gadobangkong-Cimahi-Bandung.

Mayoritas jalur yang dilewati menanjak karena melewati kawasan perbukitan. Namun penumpang kereta api akan disuguhkan pemandangan alam yang indah serta melewati terowongan kereta yang legendaris yaitu Lampegan.

Reaktivasi jalur Cipatat–Padalarang juga penting agar membantu mobilitas masyarakat Jawa Barat yang semakin tinggi serta mengurangi transportasi berbasis jalan raya.

Tidak hanya itu, apabila Bogor–Bandung terhubung sepenuhnya dengan kereta api maka ada alternatif rute perjalanan kereta api yang dipakai masyarakat menuju Bandung.

Saat ini, rute kereta api tersibuk menuju Bandung adalah jalur kereta Jakarta–Bandung sepanjang 166 km. Di jalur ini, KAI sudah memiliki trayek tetap yaitu Argo Parahyangan dengan waktu tempuh 3 jam 15 menit. 

Lewat rute ini, penumpang akan disuguhkan pemandangan alam bumi Priangan yang mempesona, salah satunya adalah Jembatan Cisomang.  

Jalur kereta Jakarta–Bandung melewati beberapa stasiun sebut saja Stasiun Gambir-Gondangdia-Cikini-Manggarai-Jatinegara-Bekasi-Tambun-Karawang-Cikampek-Purwakarta-Padalarang-Gadobangkong-Cimahi-Bandung.

Baca Artikel : Mengintip Asal Usul Kereta Api di Indonesia Versi Harian De Locomotief

Reaktivasi Cipatat–Padalarang Dibangun 2022

Reaktivasi jalur kereta dari Stasiun Cipatat menuju Stasiun Padalarang yang melewati Stasiun Tagog Apu masih menjadi prioritas pemerintah. Proyek reaktivasi jalur ini akan dibangun tahun 2022.

Reaktivasi jalur kereta Cipatat–Padalarang adalah bagian dari proyek reaktivasi jalur kereta Cianjur–Padalarang yang terbagi dalam tiga segmen.

Segmen pertama, Cianjur–Ciranjang, telah dilalui KA Siliwangi sejak tahun 2019. Sedangkan segmen kedua Ciranjang-Cipatat mulai dilalui kemarin, (21/9). 

Rel di segmen ini telah ditingkatkan dari R33 dan bantalan besi menjadi R54 dan bantalan beton. Selain itu, dilakukan normalisasi beberapa badan jalan.

Untuk segmen ketiga yaitu Cipatat–Padalarang, Kementerian Perhubungan masih melakukan studi menentukan jalur yang bisa dibangun karena kondisi alam yang berbukit. Segmen sepanjang 13,8 km ini menurut rencana baru dibangun pada 2022.

Jalur kereta api yang menuju Stasiun Cipatat/Dok: Kemenhub

”Kami masih mencari trase–trase yang kira-kira efisien untuk dibangun di waktu mendatang karena kondisi geografis yang sulit,” ungkap Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri, seperti dikutip.

Jalur kereta Cianjur–Padalarang memang dikenal memiliki medan yang cukup berat dan terjal. Misalnya tingkat kemiringan jalur kereta Rajamandala-Tagog Apu hingga 3,6% atau 36 per mil. Padahal rata-rata kemiringan jalur kereta api Indonesia 3% atau 30 per mil.

Meskipun menegangkan, penumpang kereta akan dimanjakan Karst Rajamandala hingga hamparan sawah serta pemandangan Sungai Citarum dan Sungai Cisokan. Jalur ini diyakini memudahkan akses wisatawan menuju Gunung Padang, situs megalitik tertua di Asia Tenggara, sekaligus memecah kemacetan di Padalarang–Rajamandala.

Nostalgia Jalur Kereta Bogor–Sukabumi–Bandung

Pada tahun 1830, di wilayah Hindia Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal van den Bosch dimulai pelaksanaan Sistem Tanam Paksa. Sejak tahun itu pula pemerintah Hindia Belanda banyak membuka perkebunan-perkebunan baru di daerah pegunungan dengan tanaman antara lain: tebu, kina, kopi, dan lain-lain. 

Tentu saja untuk mengangkut hasil tanaman dan mengirim ke pelabuhan untuk diekspor diperlukan suatu alat angkutan yang mumpuni, seperti kereta api.

Pada tahun 1863 berdirilah perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappiji (NIS). Melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan surat keputusan raja Belanda maka pada tahun 1869 dimulailah pembangunan jalur Batavia (Jakarta)–Buitenzorg (Bogor)–Bandung oleh NIS. 

Baca Artikel : Kisah Di Balik Adanya Kereta Rel Listrik Pertama di Indonesia

Jalur Bogor-Sukabumi dibangun sejak tahun 1882 oleh SS/Dok: KITLV

Pada 31 Januari 1873, jalur kereta api rute Batavia–Buitenzorg secara resmi beroperasi. Kesulitan keuangan yang dialami NIS menyebabkan pemerintah Hindia Belanda mendirikan perusahaan kereta api negara yaitu Staats Spoorwegen (SS) pada 6 April 1875. SS ini yang melanjutkan pembangunan jalur tersebut. 

Pada 21 Maret 1882 telah terhubung jalur kereta api rute Bogor–Sukabumi dan kemudian pada 16 Juni 1884 jalur kereta api rute Bogor–Sukabumi – Bandung mulai beroperasi secara penuh yang ditandai dengan peresmian stasiun Bandung. Panjang jalur Jakarta–Bogor adalah 54 km, panjang jalur Bogor–Sukabumi adalah 57 km dan panjang jalur Sukabumi–Bandung adalah 83 km.

Potensi Ekonomi Jalur Kereta Bogor–Sukabumi–Bandung

Jalur kereta api rute Bogor–Sukabumi–Bandung memiliki potensi ekonomi yang besar khususnya di sektor pariwisata. Hal ini karena pada jalur kereta api ini terdapat pemandangan alam yang indah. 

Kawasan wisata di sekitar Sukabumi tidak hanya menyuguhkan pemandangan alam yang indah dan asri, tetapi juga membawa wisatawan ke wisata sejarah karena sebagian besar tempat wisata itu dibangun pada era pemerintah Hindia Belanda. 

Baca Artikel : Dibangun Zaman Belanda, Rel Kereta Banyak 'Mati' di Era Orde Baru

Jalur Bogor-Sukabumi dibangun sejak tahun 1882 oleh SS/Dok: KITLV 

Kawasan wisata tersebut antara lain :

  • Kawasan Wisata Selabintana yang terletak 7 km dari kota Sukabumi. Wisatawan akan mendapatkan jejak sejarah peninggalan Belanda yang dipadu dengan panorama Gunung Gede–Pangrango. Terdapat Hotel yang dibuat pada tahun 1900-an oleh seorang berkebangsaan Belanda dan masih menjadi ikon Selabintana.
  • Kawasan wisata danau (situ) Gunung di Sukabumi. Danau ini dibuat oleh bangsawan Mataram, Rangga Jagad Syahadana atau Mbah Jalun (1770-1841) pada tahun 1800-an. Situ Gunung kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian dibangun infrastruktur pendukung pada tahun 1850. Di kawasan wisata Situ Gunung tersedia penginapan yang cukup nyaman.
  • Kawasan wisata Danau Lido adalah danau alam yang letaknya di lembah Cijeruk dan Cigombong. Di dekat danau ini juga terdapat air terjun Curug Cikaweni yang mengalirkan air yang sangat dingin. Kawasan ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1940 setelah Ratu Wilhelmina datang dan beristirahat di Lido pada tahun yang sama. Di Kawasan wisata Danau Lido tersedia penginapan yang cukup nyaman. Kawasan Wisata ini berada tidak jauh dari Stasiun Cigombong.
  • Kawasan wisata situs megalitik Gunung Padang. Situs megalitik Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Menurut para ahli arkeologi, situs ini merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Kawasan wisata ini dapat diakses melalui Stasiun Lampegan.
  • Wisata geologi di rute Padalarang–Cipatat. Penumpang kereta api dapat melihat karst Rajamandala yang membentang dari Padalarang hingga Sukabumi. Kawasan Karst Rajamandala terdiri dari berbagai situs peninggalan prasejarah yang berupa tebing yang tersusun dari batu gamping yang terangkat dari bawah permukaan laut, hingga menciptakan lipatan-lipatan. 
  • Selanjutnya ada Goa Pawon, tempat penemuan manusia prasejarah pertama. Goa Pawon berada di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Tempat wisata ini dapat diakses melalui Stasiun Cipatat.


Wiji Nurhayat

Wiji Nurhayat - Blogger yang menyukai perkembangan perkeretaapian di Indonesia, maniak trading & investasi, serta badminton lover.

Posting Komentar

Thanks for reading! Suka dengan artikel ini? Please link back artikel ini dengan sharing buttons di atas. Thank you.

Lebih baru Lebih lama