KAI Mau Terbitkan Obligasi dengan Bunga hingga 8,50%, Tertarik Beli?



PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengumumkan rencana menerbitkan surat utang atau obligasi melalui Penawaran Umum Obligasi II Kereta Api Indonesia Tahun 2019. Ini adalah kali kedua setelah Obligasi I KAI diterbitkan pada November 2017 lalu.

Adapun penjamin pelaksana emisi dalam obligasi II ini adalah PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, dan PT Danareksa Sekuritas. Direktur Utama KAI, Edi Sukmoro mengungkapkan, Obligasi II KAI nilai nominalnya mencapai Rp 2 triliun.

“Obligasi II Kereta Api Indonesia 2019 dengan nilai nominal sebanyak-banyaknya sebesar Rp 2 triliun,” kata Edi Sukmoro di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (11/11).

Edi Sukmoro mengatakan dana yang diperoleh dari penawaran umum obligasi ini setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi yaitu sebesar Rp 1,2 triliun akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman pada PT Bank HSBC Indonesia. Sedangkan sisanya akan digunakan untuk pengadaan sarana baru.

Baca juga: Ada KA Argo Parahyangan Excellence, Gambir-Bandung Kurang dari 3 Jam



Pengadaan sarana baru mayoritas untuk membeli kereta baru untuk menggantikan kereta yang usianya sudah tua. Sampai Oktober 2019, terdapat 672 kereta yang usianya di atas 30 tahun yang mencakup kereta penumpang, kereta makan, kereta bagasi dan kereta pembangkit.

Selain itu, untuk titik utama pembaruan sarana adalah melakukan repowering atau peningkatan daya sarana kereta api. Repowering ini meliputi pekerjaan penggantian mesin kereta penumpang, gerbong barang, pembaruan lokomotif, kereta rel diesel dan lainnya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi serta peningkatan layanan baik untuk angkutan penumpang maupun barang.

Direktur Keuangan KAI, Didiek Hartantyo, yakin KAI akan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 5 Desember 2019. Setelah itu bisa langsung melakukan penawaran umum pada tanggal 6 sampai dengan 9 Desember 2019. Sedangkan untuk tanggal penjatahan diperkirakan pada 10 Desember 2019 dan ditutup dengan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 13 Desember 2019.

“Dukungan yang kuat dari pemerintah terhadap KAI dapat terlihat dari pemerintah yang mempertahankan kepemilikan 100 persen di KAI, karena KAI ini merupakan BUMN yang menyediakan, mengatur, dan mengurus jasa angkutan kereta api di seluruh Indonesia,” timpalnya.

Baca juga: Ada 4 Kereta Baru yang Beroperasi di Akhir 2019, Apa Saja?



Obligasi KAI 2019 mendapatkan peringkat idAAA (Triple A; Stable Outlook) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Obligasi KAI 2019 terbagi menjadi 2 seri di mana Seri A berjangka waktu 5 tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 7,45 persen sampai 8,10 persen per tahun.

Seri B berjangka waktu 7 tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 7,80 persen sampai 8,50 persen per tahun. Bunga Obligasi dibayarkan triwulan 30/360, sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing bunga obligasi.

Selama 5 tahun terakhir dari tahun 2014 hingga 2018, KAI mencatatkan pertumbuhan pendapatan dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 25,5 persen dan rata-rata pertumbuhan laba bersih dengan CAGR sebesar 22,3 persen. Di samping itu, berdasarkan laporan posisi keuangan, KAI semakin berkembang di mana peningkatan jumlah aset dengan CAGR 20,1 persen serta diiringi pertumbuhan ekuitas dengan CAGR sebesar 30,2 persen.

Pada posisi akhir semester I Tahun 2019, total aset KAI mencapai Rp 41,2 triliun dan KAI mampu mencatatkan pertumbuhan total aset sebesar 5,84 persen, pertumbuhan total liabilitas sebesar 7,1 persen, dan pertumbuhan total ekuitas sebesar 4,4 persen. Jika dibandingkan dengan periode 30 Juni 2018, KAI mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 14,31 persen dan pertumbuhan laba bersih hingga 54,39 persen.



Ada beberapa proyek yang saat ini sedang ditangani oleh KAI di antaranya melalui Perpres Nomor 49/2017 tentang percepatan penyelenggaraan Kereta Api Ringan (LRT) terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Kemudian program peremajaan sarana dengan tujuan untuk meningkatkan layanan angkutan penumpang. Serta dari segi angkutan barang, KAI secara berkelanjutan melakukan pengembangan kapasitas angkutan batu bara dengan cara menambah lokomotif dan gerbong serta mengembangkan jalur di Sumatera bagian selatan.

Sebelumnya, pada November 2017 KAI telah menerbitkan surat utang atau obligasi perdana sebesar Rp 2 triliun. Dana tersebut digunakan untuk mendanai proyek Kereta Bandara Soekarno-Hatta sebesar 55 persen, dan sisanya 45 persen untuk pengadaan kereta baru. Penawaran obligasi ini mcndapat minat yang cukup besar dari para investor. Sebab permintaan obligasi mencapai Rp 5,2 triliun atau melebihi 2,5 kali dari nilai yang ditawarkan.
Wiji Nurhayat

Wiji Nurhayat - Blogger yang menyukai perkembangan perkeretaapian di Indonesia, maniak trading & investasi, serta badminton lover.

Posting Komentar

Thanks for reading! Suka dengan artikel ini? Please link back artikel ini dengan sharing buttons di atas. Thank you.

Lebih baru Lebih lama