Ini Alasan Belanda Bangun Stasiun Solo Balapan

PT KAI
Setelah saya mengungkap detil tentang Stasiun Solo Jebres, kini teman-teman tahu pastinya tentang Stasiun Solo Balapan. Stasiun ini merupakan stasiun terbesar di Jawa Tengah khususnya di Kota Surakarta. 

Namun beberapa dari teman-teman tentunya belum mengetahui detil bagaimana proses pembangunan Stasiun Solo Balapan. Didahului cerita yang cukup panjang, Stasiun Solo Balapan kini masih tegap berdiri di Kota Surakarta. Namun tahukah bila pembangunan Stasiun Solo Balapan oleh Belanda disebabkan karena faktor politik dan ekonomi tentunya ??? mmmmm...

Kini saya bercerita sedikit tentang sejarah pembangunan Stasiun Solo Balapan. Adanya Stasiun Solo Balapan tentu saja didahului oleh hadirnya kereta api di Indonesia. Berawal dengan berdirinya perusahaan swasta NV Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 27 Agustus 1863. Setelah didirikan, NISM kemudian mendapatkan izin dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Mr. L.A.J.W. Baron Sloet Van De Beele untuk membangun jalur Kemijen-Tanggung yang berjarak 26 km. Pembangunan jalur kereta api di Jawa, kemudian dilakukan pada 17 Juni 1864, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-52  Van De Beele. Jalur Kemijen-Tanggung selesai dan mulai dipergunakan pada 10 Agustus 1867. Jalur ini kemudian diperpanjang hingga ke Yogyakarta melalui Surakarta dan mulai dipergunakan pada 10 Juni 1872.

Lukisan stasiun tahun 1988, Sumber: BukuSpoorwegstationOpJava_DeJong_1993

Nah, hadirnya kereta api di Surakarta membuat NISM membangun sebuah stasiun di tanah milik Keraton Mangkunegaran. Di tanah yang berada di dekat pacuan kuda milik kerabat keraton di daerah Balapan itu kemudian berdiri sebuah stasiun yang dikenal dengan nama Solo Balapan (SLO) dan diresmikan pada tanggal 10 Februari 1870. Stasiun Solo Balapan ini dibangun sebagai tempat penguasa Kasunan Surakarta Pakoeboewono IX memberi sambutan kepada para Gubernur Hindia-Belanda yang datang ke wilayahnya sebelum dibawa menuju keraton. Bahkan saat peresmian, Sri Susuhuhan Paoeboewono IX mendapatkan kehormatan dari direksi NISM untuk meresmikan stasiun.

Dengan dibangunnya Stasiun Solo Balapan jelas menguntungkan NISM baik di bidang politik dan ekonomi. Menurut beberapa dokumen sejarah Belanda yang ditinggalkan, di bidang politik pembangunan jalur kereta Tanggung, Surakarta, dan Yogyakarta (termasuk di dalamnya pembangunan Stasiun Solo Balapan) adalah untuk melancarkan kepentingan diplomasi pemerintah Hindia Belanda di tanah Jawa. Seiring berjalanannya waktu kepentingan diplomasi ini berubah menjadi kepentingan ekonomi yaitu untuk mengangkut hasil industri perkebunan di tanah-tanah wilayah kerajaan terutama Surakarta. Hal ini disebabkan karena Stasiun Solo Balapan menjadi stasiun transit pengumpulan barang-barang mentah untuk diekspor ke Eropa melalui Pelabuhan Semarang.
Lukisan stasiun tahun 1927, Sumber: BukuSpoorwegstationOpJava_DeJong_1993

Semasa zaman kolonial, Stasiun Solo Balapan merupakan stasiun kereta api utama untuk Raja Surakarta dan keluarganya untuk berkunjung keluar daerah. Di stasiun ini juga tersimpan kereta khusus untuk gerbong jenazah yang digunakan bagi raja dan keluarganya.
Salah satu ruang di dalam stasiun

Pada perkembangannya, Stasiun Solo Balapan pernah mengalami pemugaran atau renovasi masing-masing di tahun 1923 dan 1927. Khusus di tahun 1927, renovasi Stasiun Solo Balapan dilakukan oleh arsitektur terkenal bernama Ir Karsten dan Schouten. Renovasi dilakukan untuk mengubah bangunan utamanya menggunakan arsitektur Jawa. Bagian atap bangunan berkonsep rumah Joglo (rumah adat Jawa) dengan atap rangkap dan memiliki tambahan semacam kanopi pendopo di bagian kiri dan kanan. Sedangkan di bagian jalur tengah ditambah peron. 
Sebagai catatan, hasil renovasi yang dilakukan di tahun 1923 masih bisa dilihat sampai sekarang.

Pada tahun 1990 bangunan utama Stasiun Solo Balapan kembali direnovasi secara besar-besaran. Bekas pendopo diganti dengan bangunan baru di kanan dan kiri gedung utama. Bagian depan stasiun atau di bagian pintu masuk dibangun teras-teras dengan kanopi terbuka untuk menahan sinar matahari. Sehingga dengan perombakan yang dilakukan pada tahun 1990, platform tengah Stasiun Solo Balapan terlihat lebih luas.
Peron dalam stasiun tahun 1988, Sumber: BukuSpoorwegstationOpJava_DeJong_1993

 Bagian dalam stasiun tahun 1990, Sumber: BukuSpoorwegstationOpJava_DeJong_1993


Wiji Nurhayat

Wiji Nurhayat - Blogger yang menyukai perkembangan perkeretaapian di Indonesia, maniak trading & investasi, serta badminton lover.

Posting Komentar

Thanks for reading! Suka dengan artikel ini? Please link back artikel ini dengan sharing buttons di atas. Thank you.

Lebih baru Lebih lama